Kepribadian Manusia

Kepribadian Manusia

assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Kepribadian Manusia

Kepribadian yang kita bicarakan di sini adalah suatu karakter/corak kehidupan yang ada pada diri seseorang. Kepribadian adalah sesuatu yang memberi ciri khas bagi pemiliknya, yang membedakannya dengan orang lain. Maka, kita bisa melihat penampakan kepribadian yang ada pada diri manusia itu dari luar, berupa perbuatan-perbuatan fisik maupun sikap-sikap mental yang ditampakkannya secara konstan dalam kehidupan kesehariannya. Kita bisa mengenali mana orang yang baik dan mana orang yang jahat dari tingkah laku yang dijalankannya dan sikap mental yang ditampakkannya. Kita bisa mempersepsikan mana orang yang terhormat dan mana orang yang hina dari berbagai sikap dan omongan yang ditampilkannya secara ajeg (tetap). Lebih dari itu, dari pola keseharian yang tampak pada diri seseorang, kita bisa menebak “haluan pemikiran” yang dia anut. Maka kita bisa mengdentifikasi mana orang yang berpikiran islami, mana orang yang berhaluan liberal, mana orang yang berhaluan sosialis, dan mana orang yang tidak punya haluan.

Pertanyaan yang kemudian muncul adalah: “kenapa penampakan kepribadian manusia itu berbeda-beda? “, “apa faktor yang membuat manusia itu memiliki kepribadian yang berbeda-beda? “. Dengan kata lain “apa faktor yang membentuk kepribadian yang khas yang ada pada diri seseorang?” Inilah yang akan kita jawab. Wa billaahit taufiiq

Manusia itu Pada Dasarnya Sama

Sudah jelas, sebagaimana kami gambarkan di atas, bahwa manusia itu berbeda-beda dalam wujud kepribadiannya. Namun demikian, anda pasti juga setuju jika dikatakan bahwa manusia itu pada dasarnya sama. Tidak ada manusia yang lahir sebagai orang yang mulia atau hina. Tatkala manusia lahir, dia tidak memiliki suatu haluan pun, maka ia tidak bisa disebut sebagai “bayi yang berhaluan sosialis”, “bayi yang berhaluan liberal”, “bayi yang berkepribadian islam”, dst”.

Sebagai sebuah spesies, maka manusia memiliki karakter umum yang dimiliki oleh seluruh anggotanya. Karakter umum yang ada pada setiap manusia adalah sebagai berikut:

Pertama, manusia itu adalah makhluk yang memiliki kebutuhan-kebutuhan dasar yang sama. Kebutuhan dasar manusia itu secara garis besar dibagi menjadi dua: Pertama kebutuhan fisik, seperti kebutuhan untuk mendapatkan nutrisi (melalui makanan, minuman, dan nafas), kebutuhan untuk membuang sisa metabolisme melalui saluran-salurannya (buang hajat), kebutuhan untuk hidup pada tempat yang memiliki vareable iklim yang layak (suhu, tekanan udara, kelembaban, dll), dan kebutuhan untuk istirahat. Kedua, kebutuhan manusia yang bersiat naluriah, seperti naluri mempertahankan diri, naluri untuk menyucikan/mengagun gkan sesuatu, dan naluri untuk melestarikan jenis manusia.

Kedua, manusia adalah spesies yang berakal. Selama manusia lahir dan hidup dalam keadaan normal, maka dia pasti memiliki akal, walau pun berbeda dalam tingkat kecerdasannya. Kedua hal inilah, yakni kebutuhan dan akal, yang merupakan karakter umum dari manusia.

Peran Akal Dalam Pembentukan Kepribadian

Kebutuhan-kebutuhan manusia dan tuntutan pemenuhannya merupakan dorongan yang membuat manusia memiliki alasan dan gairah untuk menjalani kehidupannya. Segala macam aktivitas manusia di dunia bisa dikatakan dalam rangka memenuhi kebutuhannya. Manusia menjalani berbagai bentuk pekerjaan dan usaha dalam rangka mencari pemenuhan kebutuhan hidup. Di jaman sekarang ini, seharian penuh manusia mencari uang. Jika mereka ditanya: “untuk apa uang yang mereka dapat?”, maka jawabnya pasti seputar pemenuhan kebutuhan-kebutuhan nya, bisa bersifat fisik, seperti pemenuhan kebutuhan makan, minum, maupun memenuhi kebutuan naluriah, seperti untuk menjalani ibadah, biaya menikah, biaya untuk meningkatkan status sosial, dll. Manusia saling berinteraksi dan berkomunikasi antara satu dengan yang lain juga dalam rangka memenuhi kebutuhannya. Singkatnya, kebutuhan fisik dan naluriah manusia merupakan faktor yang mendasari segala bentuk aktivitasnya.

Hanya saja, manusia itu berbeda dengan hewan. Sebab, aktivitas hewan sepenuhnya hanya ditentukan oleh dorongan kebutuhan fisik dan naluriahnya. Tidak ada faktor lain yang menentukan tindak-tanduk hewan kecuali dorongan kebutuhan tersebut. Maka, hewan akan makan begitu dia lapar dan ada makanan, dia akan berhubungan seksual begitu ada kebutuhan dan lawan jenis, hewan akan bertarung begitu naluri mempertahankan dirinya terangsang, dst.

Berbeda dengan manusia. Meski manusia memiliki dorongan untuk memenuhi kebutuhan, tapi tingkah lakunya (suluk) tidak hanya ditentukan oleh kebutuhan-kebutuhan itu. Manusia memiliki kebutuhan untuk makan dan minum, akan tetapi rasa lapar dan keberadaan makanan tidak otomatis membuat manusia menyikat makanan yang ada di depannya (karena bukan miliknya atau karena sedang puasa, misalnya). Manusia juga memiliki kebutuhan seksual, akan tetapi keberadaan wanita cantik tidak serta-merta membuat seorang laki-laki -maaf- melampiaskan kebutuhan seksual dengan wanita tersebut (karena tidak halal untuknya). Manusia memiliki rasa marah, tapi rasa marah itu tidak otomatis membuat manusia memukul orang yang membuatnya marah. Dan sebagainya.

Artinya, manusia memiliki tatanan dan kaidah-kaidah nilai yang rumit dalam menentukan tingkah lakunya. Itu karena manusia punya akal. Akal berfungsi untuk mengaitkan fakta-fakta dan pemikiran-pemikiran -yang hadir- dengan informasi-informasi yang dimiliki oleh seseorang. Dengan pengaitan itu, manusia bisa memahami hakekat dari fakta atau pemikiran yang tengah ditela’ah. Setelah itu, manusia akan memasuki tahap “mencari sikap” terhadap pemikiran atau fakta yang hadir dihadapannya. Artinya, akal manusia ini bukan hanya digunakan untuk memahami dan mengembangkan cara-cara yang lebih efektif untuk memuaskan kebutuhan manusia (dengan teknologi). Akan tetapi akal juga memungkin manusia untuk membentuk pemahaman-pemahaman (mafaahim) tentang nilai, status hukum dan penyikapan terhadap suatu pemikiran atau fakta. Maksud saya adalah, bahwa akal bisa menemukan pemahaman mengenai standar yang digunakan untuk membedakan mana suatu hal yang terpuji dan mana hal yang tercela, mana hal yang pantas untuk diterima dan mana hal yang harus ditolak, mana perbuatan yang baik dan mana perbuatan yang buruk, dsb.

Dengan pemahaman seputar nilai atau hukum terhadap suatu fakta itulah manusia akan menentukan kecenderungan (muyul) mengenai apa yang dia hadapi. Ada pun yang disebut dengan kecenderungan (muyul) adalah suatu corak hasrat/keinginan tertentu yang terbentuk oleh pemahaman(mafhum). Maka muyul ini hanya ada pada manusia, sebab, muyul adalah hasil peleburan antara dorongan-dorangan (dawafi’) yang muncul dari potensi kebutuhan dengan pemahaman-pemahaman (mafaahim)  manusia mengenai status hukum dari alternatif-alternat if perbuatan yang ada.

Jika seorang manusia telah memiliki pemahaman (mafhum) bahwa suatu perbuatan itu merupakan perbuatan yang baik dan dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan nya, maka akan tumbuh kecenderungan (muyul) berupa rasa suka dan ingin mengamalkan perbuatan yang dia pahami itu. dia akan memenuhi kebutuhannya dengan perbuatan itu, tapi jika sesuatu diidentifikasi sebagai perbuatan buruk atau tercela, maka dia akan membenci hal tersebut. Jadi muyul bisa membentuk kecintaan dan kebencian terhadap suatu fakta atau pemikiran tertentu.

Atas dasar itu, perbuatan manusia itu tidak hanya ditentukan oleh keberadaan dorongan-dorongan (dawafi’) yang muncul dari kebutuhan-kebutuhan yang ada pada dirinya (baik berupa kebutuhan fisik maupun naluriah), tapi, perbuatan manusia itu juga ditentukan oleh bentuk kecenderungannya (muyul) terhadap perbuatan-perbuatan yang akan dilakukannya, sedangkan bentuk kecenderungan (hasrat) ini ditentukan oleh pemahaman-pemahaman (mafaahim) manusia mengenai nalai-nilai perbuatan.

Aqliyah Manusia Adalah Corak Pemahaman Yang Dibentuk Oleh Kaidah Tertentu

Sudah kita jelaskan bahwa perbuatan manusia itu dipengaruhi oleh dorongan yang muncul dari kebutuhannya, pemahamannya mengenai hukum atas fakta dan pemikiran yang ditelaahnya, dan kecenderungannya terhadap sesuatu yang dihadapi.

Dalam tataran inilah kepribadian manusia itu mulai terdeferensiasi. Jika kita bicara mengenai pemahaman manusia mengenai status hukum atas suatu fakta atau pemikiran, maka bisa kita katakan bahwa manusia itu memiliki pemahaman yang beragam mengenai mana sesuatu yang dianggap terpuji dan perbuatan mana sesuatu yang dianggap tercela. Dalam menelaah sebuah perbuatan misalnya, bisa jadi seseorang menganggap sebuah perbuatan itu sah-sah saja untuk dilakukan, namun di mata orang lain ternyata dianggap tidak baik. Seorang wanita berjalan ke sana ke mari dengan bikini di pantai-pantai Amerika bisa jadi tidak masalah, tapi itu akan diaggap masalah besar bagi kaum muslimin. Seorang seniman bisa jadi bangga dan mendapat banyak pujian saat berhasil melukis seseorang yang terkenal, tapi dalam pandangan seorang muslim hal itu adalah suatu perbuatan tercela (melukis makhluk bernyawa). Saya ingat, dulu saat saya kecil, di kampung saya, jika ada seorang muslimah yang berjilbab secara benar justru dipandang aneh oleh sebagian masyarakat. Padahal jilbab adalah kewajiban yang harus ditaati, sedangkan melepaskan jilbab adalah kemakshiatan besar yang pelakunya akan mendapat murka Allah.

Yang ingin saya tunjukkan adalah, bahwa ternyata manusia itu memiliki kaidah-kaidah yang berbeda dalam membentuk pemahamannya mengenai mana yang pantas dilakukan dan mana yang tidak, mana yang baik dan mana yang buruk. Ada yang mendasarkannya pada adat istiadat, ada yang mendasarkannya pada asas manfaat, ada yang mendasarkannya pada hukum syara’. Pola pemahaman manusia yang didasarkan atas kaidah-kaidah tertentu inilah yang disebut aqliyyah.

Maka dari itu, aqliyah manusia itu beraneka ragam. Ada aqliyah yang islami, ada aqliyah yang sekuleristik, ada aqliyah yang sosialistik, dan ada pula aqliyah yang tidak jelas. Semua itu tergantung dari kaidah yang dia gunakan dalam membangun pemahamannya terkait dengan amal perbuatan yang dilakukannya dan pensikapan terhadap segala sesuatu dan fakta yang ditemuinya. Kaidah yang digunakan oleh manusia itu bisa berupa aqidah aqliyah (kaidah yang dibangun dari proses berfikir yang mendasar, dan menyeluruh, seperti aqidah islam), bisa juga berupa kaidah yang rapuh, seperti norma adat.

Nafsiyah Manusia Adalah Corak Kecenderungan Manusia Yang Didasarkan Pada Kaidah Tertentu

Kecenderungan (muyul) yang mempengaruhi perbuatan manusia merupakan hasrat untuk melakukan suatu perbuatan tatkala tuntutannya muncul. Kecenderungan ini biasanya berupa keinginan yang kuat untuk berbuat, atau keinginan yang sangat untuk meninggalkan suatu perbuatan, kecintaan pada suatu perbuatan, atau juga kebencian pada suatu perbuatan. Itu semua merupakan kecenderungan.

Bentuk kecenderungan/ hasrat manusia terhadap suatu perbuatan itu berkaitan erat dengan pemahaman-pemahaman nya (mafaahim). Oleh karena itu, kecenderungan orang terhadap suatu perbuatan pun berbeda-beda tergantung pemahamannya. Ada orang yang senang dengan sholat, tapi ada juga yang benci melihat orang sholat. Ada orang yang tidak pernah rela untuk melepas jilbab, tapi ada juga orang yang benci melihat orang berjilbab. Ada orang yang takut dengan riba, tapi ada juga orang yang asyik menikmati riba. Dst.

Kecenderungan pada diri manusia itu sebenarnya bisa diatur. Benarkah kecenderungan bisa diatur? Saya jawab, dengan yakin, “bisa!”. Ingin bukti? Kita buktikan! Pernahkah anda menemukan orang yang tidak pernah sholat tapi kemudian tiba-tiba berubah menjadi orang yang rajin berjamaah? Alhamdulillaah saya berkali-kali menemukan hal itu di masjid kami, dan banyak diantara mereka yang tetap istiqomah. Dulu tatkala mereka belum sadar, seruan adzan mungkin tidak membentuk kesan apa-apa. Mereka tidak tergugah. Tidak ada kebutuhan untuk memenuhi panggilan adzan. Tidak ada hasrat atau kecenderungan (muyul) dalam hati mereka untuk pergi ke masjid dan menunaikan sholat. Tapi sekarang, begitu adzan terdengar, maka muncul kebutuhan dalam diri mereka untuk segera sholat, memutuskan segala aktivitasnya, dan menyempatkan diri ke masjid. Mereka merasa senang bisa berjamaah di masjid, dan merasa kehilangan sesuatu jika sholatnya tertinggal. Mereka merasa senang melihat orang sholat, dan merasa sedih melihat orang yang tidak sholat. Subhaanallah. Pernah juga saya temukan orang yang tadinya tidak berjilbab kemudian berubah menjadi malu dan tidak kuasa jika keluar tanpa berjilbab. Pernah juga saya kenal dengan orang yang tadinya menjadi pegawai bank kemudian keluar karena memahami bahwa riba itu haram.

Apa yang terjadi pada diri mereka adalah perubahan kecenderungan. Kenapa kecenderungan bisa berubah? Jawabnya adalah karena didahului oleh perubahan pemahaman (mafhum). Maka, kita bisa mengatur kecenderungan dengan membentuk pemahaman. Seseorang yang tidak pernah sholat bisa berubah jika ditanamkan aqidah islam pada dirinya, kemudian dijelaskan konsekuensi dari memeluk aqidah itu, kemudian dijelaskan bahwa sholat merupakan kewajiban, setelah itu dijelaskan pula pahala bagi orang yang rajin sholat, dan tak lupa, dijelaskan juga kerasnya hukuman bagi orang yang meninggalkan sholat. Dengan begitu akan terbentuk pemahaman pada dirinya, dan setelah itu, pemahamannya akan menumbuhkan kebutuhan dan kecenderungan terhadap aktivitas sholat.

Atas dasar itu, kecenderungan itu terbentuk oleh pemahaman yang di dasarkan pada kaidah tertentu. Kecenderungan yang terbentuk oleh pemahaman dan kaidah tertentu itu tempatnya ada di dalam jiwa. Inilah yang disebut nafsiyah (pola kejiwaan). Jika kecenderungan seseorang terbentuk oleh pemahaman-pemahaman islam, maka nafsiyahnya disebut nafsiyah islamiyah. Jika yang membentuknya adalah pemahaman-pemahaman yang muncul dari aqidah lain, maka nafsiyahnya bukan nafsiyah islam.

Syakhshiyah Terbentuk Dari Aqliyah dan Nafsiyah

Demikianlah sekilas tentang aqliyah dan nafsiyah yang membedakan kepribadian manusia antara yang satu dengan yang lainya. Aqliyah dan nafsiyah itulah yang nantinya akan membentuk kulit luar dari pola kehidupan manusia. Seluruh kebutuhan yang muncul dalam dirinya akan diatur sesuai dengan pemahaman dan kecenderungan yang ada dalam dirinya. Aqliyah dan nafsiyah itu tercermin dalam segala macam tindak-tanduknya, seakan memberi warna tertentu pada corak kehidupannya. Inilah yang disebut dengan syakhshiyah atau kepribadian manusia. Singkatnya, kepribadian manusia itu terbentuk dari corak pemahaman (aqliyah) dan corak kecenderungannya (nafsiyah) yang didasarkan pada suatu aqidah tertentu.

Pelajaran yang bisa kita petik di sini adalah, bahwa membentuk kepribadian yang kuat pada diri manusia itu tidak bisa dilakukan secara dogmatis. Kita harus membentuk kepribadian itu mulai dari menanamkan sebuah kaidah dasar yang bisa digunakan untuk membentuk pemahaman-pemahaman (mafaahim) yang benar. Dengan begitu, seseorang bisa memahami dan menghukumi segala macam fakta dan pemikiran dengan kaidah yang shohih. Inilah yang disebut corak aqliyah yang mantap dan khas. Setelah itu, seseorang harus dilatih agar hawa nafsunya sejalan dengan  pemahaman-pemahaman nya agar terbentuk suatu corak kecenderungan (muyul) yang baik. Corak kecenderungan inilah yang disebut nafsiyah. Dengan corak pemahaman dan corak kecenderungan yang khas ini, terbentuklah manusia yang memiliki corak kehidupan yang tegas dan unik (as syakhshiyah al mu’ayyanah) yang mencerminkan kaidah yang digunakan untuk membentuk aqliyah dan nafsiyahnya. Allaahu A’almu bish showaab.

KESULITAN…!!!!!!!

KESULITAN…!!!!!!!

Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya
sesudah kesulitan itu ada kemudahan. (QS. Alam Nasyrah:5-6).
Jika kita membaca ayat ini, mengapa kita harus takut. Sebab jika saat ini kita
sedang sulit, maka esok kemudahanlah yang akan menghampiri kita. Ayat ini
sungguh memberikan inspirasi bagi kita yang sedang mengalami kesulitan, ayat
yang memberikan dorongan kepada kita untuk tetap bertahan, tetap semangat
dalam menghadapi hidup yang penuh kesulitan.
Kemudahan, atau pertolongan Allah SWT, akan datang. Tenanglah! Seperti
tenangnya Nabi Musa as. saat akan tersusul oleh pasukan Fir’aun, seperti
diceritakan dengan indah dalam Al Quran,
Maka Fir’aun dan bala tentaranya dapat menyusuli mereka di waktu matahari
terbit. Maka setelah kedua golongan itu saling melihat, berkatalah pengikutpengikut
Musa: “Sesungguhnya kita benar-benar akan tersusul”. Musa
menjawab: “Sekali-kali tidak akan tersusul; sesungguhnya Tuhanku besertaku,
kelak Dia akan memberi petunjuk kepadaku”. (QS. Asy Syu’araa’:60-62).
Jika kita meneladani Nabi Musa as., kita juga bisa mengatakan “sesungguhnya
Allah bersamaku, Dia akan memberikan petunjuk kepadaku” saat kita ditimpa
masalah yang seolah-olah tidak akan bisa hadapi atau selesaikan. Jadi,
janganlah bersedih dan janganlah berputus asa saat kesulitan menghimpit kita,
karena dengan pertolongan Allah SWT, kemudahan akan datang kepada kita.
Jangan pernah terhimpit, karena keadaan akan berubah. Seperti sebuah lagu
dari mendiang Chrisye, Badai pasti berlalu. Tunggulah kemudahan tersebut,
sudah dijamin koq oleh Allah dalam Al Quran yang mustahil salah. Tentu saja
sambil mengharap pertolongan Allah dengan shabar dan shalat. Hari esok
adalah ghaib, kita tidak tahu apa yang akan terjadi esok, bisa saja esoklah datangnya kemudahan tersebut. Jadi selalu ada harapan di hari esok. Justru jika

kita tidak memiliki harapan di hari esok, artinya kita sudah sok mengetahui apa
yang akan terjadi esok hari. Kita menganggap esok hari akan seperti ini saja,
maka sama artinya kita mendahului ketentuan Allah SWT. Allahlah yang
menentukan hari esok akan seperti apa, dan kita memang tidak diberitahu. Bisa
saja besok hidup kita lebih baik. Besok, selalu ada harapan untuk kita.
Begitu juga dengan rezeki, mungkin saat ini begitu sulit karena akan ada
kemudahan setelah ini. Jangan sampai kita menyerah dengan cara tidak mau
mencari rezeki yang lebih besar karena takut kehilangan rezeki yang sudah ada.
Ada juga yang berharap kepada orang dengan cara menjilat dan merendahkan
diri dihadapan orang lain.
Allah sudah menyiapkan rezeki bagi kita, jadi meskipun saat ini serasa sulit,
sebenarnya sudah Allah siapkan untuk kita. Kemudahan akan kita dapatkan
setelah kesulitan ini.
Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang
memberi rezkinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat
penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh mahfuzh).
(QS. Huud:6).

  • Hikmah Kesulitan

Daripada tenggelam dengan kesedihan akibat kesulitan, mengapa kita tidak
berusaha mengambil hikmah dengan cara berprasangka baik kepada Allah
SWT. Mungkin dengan datangnya kesulitan kepada kita, agar kita:
1. memiliki hati yang lebih kuat, sebab kesulitan menguatkan hati kita
2. sadar dengan segala kekurangan dan kesalahan sehingga kita bertaubat
dan dosa kita diampuni.
3. bebas dari rasa ‘ujub, kesulitan adalah bisa saja sebagai teguran karena
kita merasa bisa dan merasa pintar

Tambahkan Cinta Dan Kurangi Benci

Tambahkan Cinta Dan Kurangi Benci

Tambahkan Cinta Dan Kurangi Benci

Seorang pria bertemu dengan seorang gadis di sebuah pesta, si gadis

tampil luar biasa cantiknya, banyak lelaki yang mencoba mengejar si gadis.

Si pria sebetulnya tampil biasa saja dan tak ada yang begitu

memperhatikan dia, tapi pada saat pesta selesai dia memberanikan diri

mengajak si gadis untuk sekedar mencari minuman hangat. Si gadis agak

terkejut, tapi karena kesopanan si pria itu, si gadis mengiyakan ajakannya.

Mereka berdua akhirnya duduk di sebuah coffee shop, tapi si pria sangat

gugup untuk berkata apa-apa dan si gadis mulai merasa tidak nyaman dan

berkata, “Kita pulang saja?”.

Namun tiba-tiba si pria meminta sesuatu pada sang pramusaji, “Bisa minta

garam buat kopi saya?” Semua orang yang mendengar memandang dengan

ke arah si pria, aneh sekali! Wajahnya berubah merah, tapi tetap saja dia

memasukkan garam tersebut ke dalam kopinya dan meminumnya.

Si gadis dengan penasaran bertanya, “Kenapa kamu bisa punya kebiasaan

seperti ini?” Si pria menjawab, “Ketika saya kecil, saya tinggal di daerah

pantai dekat laut, saya suka bermain di laut, saya dapat merasakan

rasanya laut, asin dan sedikit menggigit, sama seperti kopi asin ini. Dan

setiap saya minum kopi asin, saya selalu ingat masa kanak-kanak saya, ingat

kampung halaman, saya sangat rindu kampung halaman saya, saya kangen

orang tua saya yang masih tinggal di sana.”

Begitu berkata kalimat terakhir, mata si pria mulai berkaca-kaca, dan si

gadis sangat tersentuh akan perasaan tulus dari ucapan pria di hadapannya

itu. Si gadis berpikir bila seorang pria dapat bercerita bahwa ia rindu

kampung halamannya, pasti pria itu mencintai rumahnya, peduli akan

rumahnya dan mempunyai tanggung jawab terhadap rumahnya. Kemudian si

gadis juga mulai berbicara, bercerita juga tentang kampung halamannya

nun jauh di sana , masa kecilnya dan keluarganya.

Suasana kaku langsung berubah menjadi sebuah perbincangan yang hangat

juga akhirnya menjadi sebuah awal yang indah dalam cerita mereka

berdua.

Mereka akhirnya berpacaran. Si gadis akhirnya menemukan bahwa si pria

itu adalah seorang lelaki yang dapat memenuhi segala permintaannya, dia

sangat perhatian, berhati baik, hangat, sangat perduli… betul-betul

seseorang yang sangat baik tapi si gadis hampir saja kehilangan seorang

lelaki seperti itu!Kopi asin yang ada gunanya…

Kemudian cerita berlanjut seperti layaknya setiap cerita cinta yang indah,

sang putri menikah dengan sang pangeran dan mereka hidup bahagia

selamanya, dan setiap saat sang putri membuat kopi untuk sang pangeran,

ia membubuhkan garam di dalamnya, karena ia tahu bahwa itulah yang

disukai oleh pangerannya.

Setelah 40 tahun, si pria meninggal dunia, dan meninggalkan sebuah surat

yang berkata, “Sayangku yang tercinta, mohon maafkan saya, maafkan

kalau seumur hidupku adalah dusta belaka. Hanya sebuah kebohongan yang

aku katakan padamu … tentang kopi asin.”

Ingat sewaktu kita pertama kali jalan bersama? Saya sangat gugup waktu

itu, sebenarnya saya ingin minta gula tapi malah berkata garam. Sulit

sekali bagi saya untuk mengubahnya karena kamu pasti akan tambah

merasa tidak nyaman, jadi saya maju terus. Saya tak pernah terpikir

bahwa hal itu ternyata menjadi awal komunikasi kita! Saya mencoba untuk

berkata sejujurnya selama ini, tapi saya terlalu takut melakukannya,

karena saya telah berjanji untuk tidak membohongimu untuk suatu apa

pun.

Sekarang saya sekarat, saya tidak takut apa-apa lagi jadi saya katakan

padamu yang sejujurnya, saya tidak suka kopi asin, betul-betul aneh dan

rasanya tidak enak. Tapi saya selalu dapat kopi asin seumur hidupku sejak

bertemu denganmu, dan saya tidak pernah sekalipun menyesal untuk segala

sesuatu yang saya lakukan untukmu. Memilikimu adalah kebahagiaan

terbesar dalam seluruh hidupku. Bila saya dapat hidup untuk kedua kalinya,

saya tetap ingin bertemu kamu lagi dan memilikimu seumur hidupku,

meskipun saya harus meminum kopi asin itu lagi.

Air mata si gadis betul-betul membuat surat itu menjadi basah. Kemudian

hari bila ada seseorang yang bertanya padanya, apa rasanya minum kopi

pakai garam?Si gadis pasti menjawab, “Rasanya manis.”

Kadang Anda merasa Anda mengenal seseorang lebih baik dari orang lain,

tapi hanya untuk menyadari bahwa pendapat Anda tentang seseorang itu

bukan seperti yang Anda gambarkan. Sama seperti kejadian kopi asin tadi.

Tambahkan Cinta dan Kurangi Benci karena terkadang garam terasa lebih

manis daripada gula.

jangan suka marah yaa…….

jangan suka marah yaa…….

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَجُلاً قَالَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَوْصِنِي، قَالَ : لاَ تَغْضَبْ فَرَدَّدَ مِرَاراً، قَالَ: لاَ تَغْضَبْ

[رواه البخاري]

Terjemah hadits / ترجمة الحديث :

Dari Abu Hurairah radhiallahuanhu sesungguhnya seseorang bertanya kepada Rasulullah sholallohu ‘alaihi wa sallam : (Ya Rasulullah) nasihatilah saya. Beliau bersabda : Jangan kamu marah. Beliau menanyakan hal itu berkali-kali. Maka beliau bersabda : Jangan engkau marah.

(Riwayat Bukhori )

Pelajaran yang terdapat dalam hadits / الفوائد من الحديث :

  1. Anjuran bagi setiap muslim untuk memberikan nasihat dan mengenal perbuatan-perbuatan kebajikan, menambah wawasan ilmu yang bermanfaat serta memberikan nasihat yang baik.
  2. Larangan marah.
  3. Dianjurkan untuk mengulangi pembicaraan hingga pendengar menyadari pentingnya dan kedudukannya.